Silaturrahim

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

MENYAMBUNG TALI SILATURRAHIM DALAM IMAN DAN KEBENARAN

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْ خَلْقِهِ قَالَتْ الرَّحِمُ هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنْ الْقَطِيعَةِ قَالَ نَعَمْ أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ قَالَتْ بَلَى يَا رَبِّ قَالَ فَهُوَ لَكِ

“Sesungguhnya setelah Allah menciptakan semua makhluk, maka rahim pun berkata; ‘Inikah tempat bagi yang berlindung dari terputusnya silaturrahim (Menyambung silaturahim).’ Allah menjawab: ‘Benar. Tidakkah kamu rela bahwasanya Aku akan menyambung orang yang menyambungmu dan memutuskan yang memutuskanmu?’ Rahim menjawab; ‘Tentu, wahai Rabb’ Allah berfirman: ‘ltulah yang kamu miliki’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Orang yang menyambung silaturrahim bukanlah orang yang memenuhi (menjaga hubungan yang sudah terjalin) akan tetapi orang yang menyambung silaturrahim adalah orang yang menyambungnya kembali ketika tali silaturrahim itu sempat terputus.” (HR. Bukhari dan Muslim)

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ يَعْنِي قَاطِعَ رَحِمٍ

“Tidak masuk surga orang yang memutuskan (yakni memutuskan silaturrahim).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah Ta’ala berfirman:

وَٱعْبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُواْ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا وَبِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْجَارِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْجَارِ ٱلْجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلْجَنۢبِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ ۞ه

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.” (QS. An-Nisa [4]:36)

وَٱلَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ ٱللَّهِ مِنۢ بَعْدِ مِيثَٰقِهِۦ وَيَقْطَعُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ ۙ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوٓءُ ٱلدَّارِ ۞ه

“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).” (QS. Ar-Ra’d [13]:25)

SILATURRAHIM atau menyambung tali persaudaraan mempunyai makna berbuat baik kepada karib kerabat (karena nasab dan/atau agama) dalam iman dan kebenaran sesuai dengan keadaan orang-orang yang akan tersambungkan. Perbuatan baik tersebut dalam wujud saling memberi salam, saling memaafkan, saling menjaga (menghormati dan melindungi), saling mengunjungi, saling membantu dalam kebaikan (memenuhi kebutuhan, membebaskan kesulitan dan menutup aib), dan lainnya.(

Silaturahim (صِلَةُ الرَّحِمِ) terdiri dari dua kata: shilah (صِلَةُ) dan ar-rahim (الرَّحِمِ). Shilah artinya menyambung, menghubungkan, mengumpulkan bersama atau menggabungkan ini dengan itu. Sedangkan ar-rahim artinya rahim wanita, sehingga ar-rahim menyebutkan karib-kerabat berasal dari satu rahim atau nasabnya. Namun jika menggunakan firman Allah dalam An-Nisa [4]:36, maka ar-rahim juga diperluas termasuk karib kerabat yang diikat oleh agama, yaitu sesama muslimun dan mukminun seperti firman Allah dan hadits Rasulullah berikut :

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُواْ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ۞ه

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat [49]:10)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Seorang muslim dengan muslim yang lain adalah bersaudara. Ia tidak boleh berbuat zhalim dan aniaya kepada saudaranya yang muslim. Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barang siapa membebaskan seorang muslim dari suatu kesulitan, maka Allah akan membebaskannya dari kesulitan pada hari kiamat. Dan barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat kelak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

This entry was posted in Opinions and tagged , . Bookmark the permalink.