Allah Menghendaki Kebaikan Bagi Hamba-Nya

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BARANGSIAPA YANG ALLAH MENGHENDAKI KEBAIKAN BAGINYA

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِن يَمْسَسْكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَآدَّ لِفَضْلِهِۦ ۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ۞ه

“Jika Allah menghendaki menimpakan keburukan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki memberikan kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus [10]:107)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

“Sesungguhnya seorang manusia mulai diciptakan dalam perut ibunya setelah diproses selama empat puluh hari (nuthfah). Kemudian menjadi segumpal daging (‘alaqah) pada empat puluh hari berikutnya. Lalu menjadi segumpal daging (mudhghah) pada empat puluh hari berikutnya. Setelah empat puluh hari berikutnya, Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menghembuskan ruh ke dalam dirinya dan diperintahkan untuk menulis empat hal; rezekinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara atau bahagianya.’ Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sungguh ada seseorang darimu yang mengerjakan amal perbuatan ahli surga, hingga jarak antara dirinya dan surga hanyalah satu hasta, namun suratan takdir rupanya ditetapkan baginya hingga ia mengerjakan amal perbuatan ahli neraka dan akhirnya ia pun masuk neraka. Ada pula orang yang mengerjakan amal perbuatan ahli neraka, hingga jarak antara ia dan neraka hanya satu hasta, namun suratan takdir rupanya ditetapkan baginya hingga kemudian ia mengerjakan amal perbuatan ahli surga dan akhirnya ia pun masuk surga.” (HR. Muslim)

Allah Ta’ala Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Allah Ta’ala Maha Pengampun dan Maha Adil.
Apakah manusia menginginkan kebaikan bagi dirinya atau dia “menolak” kebaikan bagi dirinya?

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذْكِرَةٌ ۖ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلًا ۞ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا ۞ه

“Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Insan [76]:29-30)

Islam sebagai agama tauhid yang disampaikan para Nabi dan Rasul atas perintah Allah pastilah kebaikan bagi manusia.
Al-Quran yang merupakan penutup dan penyempurna kitab-kitab Allah terdahulu pastilah kebaikan bagi manusia.
Islam dan Al-Quran dibawa oleh Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam hamba Allah dan Rasul Allah yang menjadi penutup dan membenarkan para Nabi dan Rasul terdahulu, seseorang yang berakhlak mulia dan yang dikasihi Allah pastilah seseorang yang baik dan menyampaikan kebaikan bagi manusia. Teladan Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dalam sunnahnya (hadits) pastilah kebaikan bagi manusia.
Para shahabat dan shahabiyah radhiyallahu’anhuma yang langsung dididik Rasulullah dan selalu berlomba-lomba beramal shalih sesuai petunjuk Rasulullah, mereka dipuji Allah dan sebagian dijanjikan surga di kala masih hidup (sesuai hadits Muslim di awal yang menunjukkan akhir hidup seseorang dapat merubah nasib seseorang di hari pembalasan, namun Allah telah meneguhkan mereka). Mereka melanjutkan kebaikan Rasulullah dengan mengajarkan hanya apa yang diajarkan pada mereka. Mengikuti jalan mereka sebagai salafush shalih, dan menempuh sesuai manhaj/metode mereka adalah kebaikan bagi manusia.

Allah Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱبْتَغُوٓاْ إِلَيْهِ ٱلْوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُواْ فِى سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ۞ه

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah [5]:35)