Heijunka dan Production Planning

Penjadwalan produksi dalam Lean & Agile Production mempergunakan ukuran lot produksi relatif kecil. Pada perusahaan yang mempunyai varian produk bervariasi, penerapan lean & agile production melaksanakan produksi dengan penjadwalan berganti (mixed scheduling) untuk menghindarkan overproduksi dan stok yang terlalu tinggi. Heijunka menjadi metode pengendalian produksi yang diterapkan dalam lean & agile production.

Heijunka (平準家) merupakan istilah berbahasa Jepang yang tersusun dari kata-kata 平準 (‘heijun’ yang bermakna ‘level’) dan 家(‘ka’ yang bermakna ‘rumah’ atau ‘stasiun kerja’). Sehingga heijunka berarti produksi level dalam stasiun kerja. Definisi tersebut menunjukkan bahwa produksi yang dijalankan di stasiun kerja atau shopfloor adalah production levelling atau production smoothing. Jadwal produksi yang diterapkan menyebar kebutuhan produksi lebih merata (demand leveling) sehingga produksi relatif stasioner (production leveling). Hal ini menghindarkan penumpukan pada produk yang terus diproduksi dalam waktu cukup lama, dan waktu menunggu yang cukup lama pada produk lainnya yang tidak diproduksi. Pemborosan akibat penumpukan stok dan waktu menunggu dicegah dengan heijunka.

Heijunka menerapkan penjadwalan berganti (mixed scheduling) dengan ukuran lot produksi kecil. Heijunka mempersyaratkan waktu setup (changeover time) yang singkat. Reduksi waktu setup sangat penting untuk menghindarkan kerugian akibat waktu produksi terkurangi waktu setup. Heijunka dilaksanakan dengan leveling by volume (mengendalikan ukuran lot produksi) dan leveling by product (mengendalikan penjadwalan berganti).

NotHeijunkawithHeijunka

Gambar di atas menunjukkan perbedaan antara tanpa dan dengan mempergunakan Heijunka. Gambar kiri menunjukkan penjadwalan produksi tanpa heijunka di mana produksi dilaksanakan dengan lot produksi yang relatif besar (produk A sebanyak 6 satuan @ 100 unit, produk B sebanyak 4 satuan @ 120 unit, produk C sebanyak 2 satuan @ 90 unit), dan dimulai setiap stok produk mencapai reorder point. Gambar kanan menunjukkan penjadwalan produksi dengan heijunka di mana produksi dilaksanakan dengan lot produksi yang relatif kecil (produk A sebanyak 1 satuan @ 100 unit, produk B sebanyak 1 satuan @ 120 unit, produk C sebanyak 1 satuan @ 90 unit), dan diatur secara mixed scheduling. Waktu tunggu dari akhir produksi sebelumnya dengan awal produksi berikutnya untuk masing-masing produk, jika tanpa heijunka akan lebih lama dibandingkan dengan heijunka. Demikian pula pergerakan stok persediaan masing-masing produk, jika tanpa heijunka akan lebih tinggi dibandingkan dengan heijunka.

This entry was posted in Opinions and tagged . Bookmark the permalink.